Selasa, 15 Juni 2021

Laporan bacaan : 4

 Laporan bacaan: Psikologi perkembangan peserta didik.

Ardhi Ramadiansyah_11901267_PAI 4B

Bismillahirrahmanirrahim

Pada minggu ini saya membaca sebuah e-book dengan judul buku nya “Psikologi perkembangan peserta didik” yang ditulis oleh Dra. Desmita, M.Si. jadi disini saya akan menjelaskan sedikit tentang psikologi perkembangan peserta didik dari apa yang saya baca agar teman-teman dapat memahami nya. Apa bila teman-teman ingin membaca secara seluruhnya silahkan buka “ https://difarepositories.uin-suka.ac.id “. 


Sebelum kita mengetahu lebih lanjut terkait psikologi perkembangan peserta didik, sebaiknya kita memahami terlebih dahulu apa itu psikologi. Jadi dapat saya pahami bahwa psikologi merupakan suatu disiplin ilmu yang sangat besar manfaatnya bagi kehidupan kita atau manusia. Karena psikologi ini merupakan disiplin ilmu yang telah menyentuh hampir seluruh deminsi kehidupan manusia, kita bisa lihat dari teori-teori atau riset psikologi yang telah digunakan secara luas dalam berbagai lapangan kehidupan, seperti ekonomi, kesehatan, pendidikan dan lain sebagainya.

Secara umum kita dapat membedakan psikologi menjadi dua cabang yaitu psikologi teoi’etis dan psikologi terapan. Jadi psikologi teoretis dapat pula dibedakan atas dua bagian yaitu psikologi umum dan psikologi khusus. Dapat dijelaskan psikologi umum merupakan psikologi teoretis yang mempelajari aktivitas-aktivitas mental manusia yang bersifat umum dalam rangka mencari dalil-dalil umum dan teori-teori psikologi. Sedangkan psikologi Khusus ini kemungkinan akan terus berkembang sesuai dengan situasi dan kebutuhan.
Jadi dari pengertian ini dapat kita pahami bahwa psikologi perkembangan peserta didik merupakan bidang kajian psikologi perkembangan yang secara khusu mempelajari aspek-aspek perkembangan individu yang berada pada tahap usia sekolah dasar dan sekolah menengah. Kita juga harus memahami tujuan dari psikologi perkembangan peserta didik, jadi tujuan dari psikologi ini yaitu memberikan, mengukur dan menerangkan perubahan dalam tingkah laku serta kemampuan yang sedang berkembang sesuai dengan tingkatan usia dan mempunya ciri-ciri universal dalam artian yang berlaku bagi anak-anak di mana saja dan dalam lingkungan sosial-budaya mana saja.
Setelah kita memahami ini semua kita harus mengetahu tentang konsep perkembangan peserta didik. Disini kita harus paham terlebih dahulu apa itu perkembangan dan pertumbuhan, jadi dapat saya pahami dari apa yang telah saya baca bahwa perkembangan tidaklah terbatas pada pengertian pertumbuhan yang semakin membesar, melainkan didalamnya juga terkandung serangkaian perubahan yang berlangsung secara terus menerus dan bersifat tetap dari fungsi-fungsi jasmaniah dan rohaniah yang dimiliki individu menuju ketahap kematanagan melalui pertumbuhan, pemasakan dan belajar. Sedangkan pertumbuhan dalam konteks perkembangan merujuk perubahan-perubahan yang bersifat kuantitatif, yaitu peningkatan dalam ukuran dan struktur seperti pertumbuhan badan, pertumbuhan kaki, kepala,dan lain sebagainya.
Selain itu kita juga harus memahami fase perkembangan jadi maksudnya adalah penahapan atau periodesasi rentang kehidupan manusia yang ditandai oleh ciri-ciri atau pola-pola tingkah laku tertentu. Meskipun masing-masing anak mempunyai masa perkembangan yang berlainan satu sama lain. 
Dapat saya tulis disini menurut Aristoteles, ia membagi fase perkembangan manusia sejak lahir sampai usia 21 tahun ke dalam tiga masa, dimana setiap fase meliputi masa tujuh tahu, yaitu; (1) fase anak kecil atau masa bermain (0 – 7 tahun) yang diakhiri dengan tanggal atau pergantian gigi. (2) fase anak sekolah atau masa belajar (7 -14 tahun) yang dimulai dari tumbuhnya gigi baru sampai timbulnya gejala berfungsinya kelenjar-kelenjar kelamin. (3) fase remaja (pubertas) atau masa peralihan dari anak menjadi dewasa (14-21 tahun) yang dimulai dari mulai bekerjanya kelenjar-kelenjar kelamin sampai akan memasuki masa dewasa.
Selain itu di dalam buku ini juga saya ada membaca sebuah periodesasi perkembangan menurut konsep Islam, ini salah satu yang sangat menarik menurut saya karena ternyata di dalam Al-qur’an dan hadits ada menjelaskan tentang perkembangan, jadi perkembangan individu secara garis besarnya dapat dibedakan atas tiga fase, yaitu; (1) periode Pra-konsepsi, yaitu perkembangan manusia sebelum masa pembuahan sperma dan ovum. (2) periode pra-natal, yaitu periode perkembangan manusia yang dimulai dari pembuahan sperma dan ovum sampai masa kelahiran. Jadi pada periode ini dibagi atas empat fase yaitu; (a) fase Nuthfah (zigot) dimulai sejak pembuahan sampai usia 40 hari dalam kandungan, (b) fase alaqah (emrio) selama 40 hari, (c) fase mudhghah (janin) selama 4 hari dan (d) fase peniupan ruh ke dalam jasad janin dalam kandungan setelah genap berusia 4 bulan. (3) Periode kelahiran sampai meninggal dunia.

Selain itu di dalam buku tersebut menjelaskan tentang aspek-aspek perkembangan peserta didik, jadi secara umum perkembangan peserta didik dapat dikelompokan ke dalam tiga aspek perkembangan yaitu perkembangan fisik, kognitif dan psikososial. Perkembangan aspek fisik atau biologis meliputi perubahan-perubahan dalam tubuh (seperti pertumbuhan otak, sistem saraf, organ-organ indrawi, pertambahan tinggi dan berat, hormon, dll) dan perubahan-perubahan dalam cara-cara individu dalam menggunakan tubuhnya, dan serta perubahan dalam kemampuan fisik. sedangkan perkembangan aspek kognitif merupakan salah satu aspek perkembangan peserta didik yang berkaitan dengan pengertian (pengetahuan) yaitu semua proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari dan memikirkan lingkungannya. Dan yang terakhir yaitu perkembangan aspek psikososial merupakan proses perubahan kemampuan –kemampuan peserta didik untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial yang lebih luas.

Jadi dalam perkembangan peserta didik ini mempunya karakteristik di setiap tingkatan dan usia sekolah, jadi karakteristik anak usia sekolah dasar (6-12 tahun) jadi pada usia ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan anak-anak yang usianya ebih muda, ia senang bermain, bergerak, bekerja dalam kelompok, dan senan merasakan atau melakukan sesuatu secara langsung. Menurut Havighurst, tugas perkembangan anak usia sekolah dasar meliputi: (1) menguasai keterampilan fisik yang diperlukan dalam permainan dan aktivitas fisik, (2) membina hidup sehat, (3) belajar bergaul dan bekerja dalam kelompok, (4) belajar menjalankan peranan sosial sesuai dengan jenis kelamin, (5) belajar membaca, menulis dan berhitung.
Sedangkan karakteristik anak usia sekolah menengah (smp) berada pada tahap perkembangan pubertas (10-14 tahun) terdapat karakteristik yang menonjul yaitu; (1) terjadinya ketidak seimbangan proporsi tinggi dan berat badan. (2) mulai timbulnya ciri-ciri seks sekunder (3) kecenderungan ambivalensi, antara keinginan menyendiri dengan keinginan bergaul, serta keinginan untuk bebas dari dominasi dengan kebutuhan bimbingan dan bantuan dari orang tua, (4) senang membandingkan kaedah-kaedah, nilai-nilai etika dan norma dengan kenyataan yang terjadi dalam kehidupan orang dewasa. (5) mulai mempertanyakan secara skeptis mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan tuhan. (6) reaksi dan ekspresi emosi masih labil.
Yang terkhir yaitu karakteristik anak usia remaja ( SMA) pada usia 12-21 tahun merupakan masa peralihan antara masa kehidupan anak-anak dan masa kehidupan orang dewasa, jadi pada masa ini ditandai dengan sejumlah karakteristik yaitu; (1) mencapai hubungan yang matang dengan tema sebaya, (2) dapat menerima dan belajar peran sosial sebagai pria atau wanita dewasa yang dijunjung tinggi oleh masyarakat, (3) menerima keadaan fisik dan mampu menggunakannya secara efektif, (4) mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya, (5) memilih dan mempersiapkan karier di masa depan sesuai dengan minat dan kemampuannya.
  
  Mungkin cukup disini dulu nanti saya akan lanjutkan pembahasan dari buku yang saya baca ini terkait Psikologi perkembangan peserta didik.


Selasa, 08 Juni 2021

Laporan bacaan


 Laporan Bacaan : “Pendidikan keluarga dan tanggung jawab orang Tua dalam Pendidikan anak usia dini”

  


Ardhi Ramadiansyah_11901267

Bismillahirrahmanirrahim

Kali ini saya akan membahas sedikit tentang pendidikan keluarga. Sebelum itu sebaiknya kita mengetahui apa itu pendidikan keluarga, teori-teori pendidikan keluarga pada anak usia dini dan lain sebagainya. Ini semua akan saya bahas pada laporan bacaan saya, loporan ini berdasarkan sumber yang telah saya baca sebelumnya. Jadi apabila teman-teman yang ingin membaca secara lengkap bisa dilihat di jurnal “ M.Syahran jailani. Teori pendidikan keluarga  dan tanggung jawab orang Tua dalam pendidikan Anak Usia Dini. Nadwa Jurnal Pendidikan Islam.vol 8. Nomor 2, oktober 2014”.

Baiklah disini saya akan membahas terkait pendidikan keluarga. Menurut Mansur, pendidikan keluarga merupakan proses pemberian nilai-nilai positif bagi tubuh kembangnya anak sebagai pondasi pendidikan selanjutnya. Sedangkan menurut Abdullah juga mengartikan bahwa pendidikan keluarga adalah segala usaha yang dilakukan oleh orang tua berupa pembiasaan dan improvisasi untuk membantu perkembangan pribadi anak. Selain itu menurur Ki Hajar Dewantara menjelaskan bahwa alam keluarga bagi setiap orang (anak) adalah alam pemdidikan permulaan, jadi untuk pertama kalinya orang tua berkedudukan sebagai penuntun (guru) sebagai pengajar, sebagai pendidikan, pembimbing dan sebagai pendidik yang utama diperoleh anak. 

Dalam pendidikan keluarga  pada Anak Usia Dini , mempunnyai teori-teori terkait hal tersebut antara lain seperti menurut J.H. Pestolozzin (1746-1827), jadi menurutnya pendidikan sebaiknya mengikuti sifat-sifat bawaan anak (child’s nature). Dasar dari pendidikan ini mengunakan metode yang merupakan perpaduan antara dunia alam terutama alam keluarga dan pendidikan yang praktis.  Sedangkan menurut Friedrich Frobel (1782-1852), di dalam gagasannya di antara nya bermain, bernyanyi dan berbagai macam pekerjaan anak-anak yang diberikan, guna memberi pengalaman langsung kepada anak. Sedangkan teori dari Abu Hamid Muhammad Al-Gazali, dalam konsep pendidikan mengatakan bahwa pendidikan agama harus dimulai sejak usia dini  sebab, dalam keadaan ini anak siap untuk menerima aqidah-aqidah agama semata atas dasar iman, tanpa meminta dalil untuk menguatkannya atau menuntut kepastian dan penjelasan.

 Salah satu tokoh yang sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan di indonesia yaitu Ki Hajar Dewantara, memiliki konsep pendidikan beliau yang dituangkan melalui “Tri Sentra Pendidikan” yang dikembangkan di perguruan taman siswa, yaitu sentra keluarga, sentra perguruan dan sentra masyarakat. Jadi dalam konteks sentra keluarga , pendidikan keluarga telah melahirkan konsep “among” dimana konsep ini menuntut para orang tua untuk bersikap yaitu; (1) ing ngarso sung tolodo, (2) ing madya mangun kasra, (3) tut wuri handayani.


Selain dijelaskan pengertian pendidikan keluarga dan teori-teori pendidikan keluarga pada anak usia dini, didalam jurnal itu juga menjelaskan bagaimana implikasi dari teori-teori tersebut. Di dalam undang-undang sistem pendidikan nasional nomor 20 Tahun 2003, Bab I pasal 1 ayat 13, menyebutkan bahwa “ pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan”. Selanjutnya pada pasal 27 ayat 1, mempertegas bahwa “ kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga  dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri”.

Dalam pendidika keluarga ini belum sepenuhnya dilaksanakan oleh orang tua yang memiliki anak-anak di rumah, banyak sekali faktor yang menjebabkan belum optimal dipraktikkan dalam kehidupan keseharian para orang tua dalam mendidik anaknya dirumah, faktornya yaitu; (1) kurangnya pengetahuan dan pemahaman orang tua dalam mendidik anak, (2) lemahnya peran sosial budaya masyarakat dalam membangun kesadaran akan pentingnya pendidikan keluarga. (3)kuatnya desakan dan tarikan pergulatan ekonomi para orang tua. (4)kemajuan arus teknologi informasi yang meluas turut pula mempengaruhi cara berpikir dan bertindak para orang tua.


Selain dari jurnal ini saya ada juga membaca di jurnal yang lain membahas tentang pendidikan keluarga , bagi kawan –kawan yang ingin membaca secara lengkap boleh dilihat di jurnal “ Hasbi wahy. Keluarga sebagai basis pendidikan pertama dan utama, Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA, februari 2021, VOL.XII No 2. Hal 245-258.”  Jadi didalam jurnal ini membahas tentang pedidikan dan tanggung jawab orang tua, tantangan dan mendidik anak dan peran anggota keluarga terhadap anak, dll.

Menurut Zakiah Dradjat mengatakan  bahwa orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan, dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga. Dalam hal ini kedua orang tua memiliki tanggung jawab, menurut Fuad Ihsan, yaitu; (1) memilihara dan membesarkannya. (2) melindungi dan menjamin kesehatannya. (3) mendidik dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi hidupnya. (4) membahagiakan anak untuk dunia dan akhirat dengan memberikanya pendidikan agama.

Dalam mendidik anak ini pastinya memiliki sebuah tantangan, jadi tantangan dalam pendidikan anak dapat dibagi menjadi dua yaitu tantangan yang berasal dari dalam (intern) dan dari luar (ekstern), kedua tantangan ini saling mempengaruhi dalam upaya pendidikan anak. Jadi ada sumber tantangan yang berpengaruh  dari dalam (intern)  yaitu orang tua si anak itu sendiri, karena  banyak orang tua yang kurang paham dan tidak memahami bagaimana cara memdidik anak yang baik. Sedangkan tantangan yang lain yaitu berasal dari anggota keluarga, biasanya orang tua mungkin sudah berusaha dalam mendidik anak mereka dengan baik namun ada penyebab lain yang bersal dari anggota keluarga yang merusak suasana.

Sedangakan dalam tantangan yang berpengaruh dari luar (ekstern), ini sangat luas sekali berbagai informasi akan mempengaruhi perkembangan anak dari segala sisi, seperti dari lingkungan masyarakat, karena lingkungan masyarakat ini merupakan tantangan yang tidak dapat dielakan karena anak pasti pasti melakukan interaksi dengan lingkungannya anak membutuhkan teman bermain dan kawan sebaya yang dapat berbicara. Selain itu ada juga tantangan dari lingkungan rumah yang jauh dari nilai-nilai islam bisa melunturkan pendidikan yang ditanampakan di rumah. Ada juga lingkungan sekolah bisa menjadi sumber tantangan , karena bagaimanapun guru-guru di sekolah tidak akan mampu dalam mengawasi anak didiknya di setiap saat. Karena interaksi anak dengan teman-temannya disekolah yang memiliki perilaku yang bervariasi, apabila tidak dipantau dengan baik oleh guru atau orang tuanya bise berdapak negatif.

Jadi dalam pendidikan keluarga ini ada peranan anggota keluarga terhadap anak, biasanya kebanyakan keluarga yang memegang peranan yang terpenting adalah ibu terhadap pendidikan anak-anaknya. Sesuai dengan fungsi seta tanggung jawab sebagai anggota keluarga, dapat disimpulkan bahwa peranan ibu dalam pendidikan anak-anaknya sebagai berikut ; (1) sumber dan pemberi rasa kasih sayang, (2) pengasuh dan pemelihara, (3) tempat mencurahkan isi hati, (4) pengatur kehidupan dalam rumah tangga, (5) pembimbing hubungan peribadi, dan (6) pendidikan dalam segi-segi emosional. Jadi dapat kita pahami bahwa seorang ibu itu snagat memegang peranan penting dalam dunia pendidik anak.

Dalam pendidikan keluarga juga mempunya fungsi dan peranan, jadi pendidikan keluarga ini merupakan pengalaman pertama masa kanak-kanak, jadi dimaksud pertama bahwa kehadiran anak di dunia ini disebabkan hubungan kedua ornang tuanya, mengingat orang tua  yang harus bertanggung jawab terhadap pendidikan anak-anaknya. Selain itu pendidikan keluarga juga bertujuan untuk menjamin kehidupan emosional anak, hal ini dikarenakan adanya hubungan darah antara pendidik dengan anak didik sehingga menumbuhkan hubungan yang didasarkan atas cinta kasih sayang yang murni. Selain itu juga pendidikan keluarga bertujuan untuk menanamkan dasar pendidika moral, karena biasanya pendidikan moral ini dasar-dasar pendidikan moral bagi anak yang biasanya tercemin dalam sikap dan perilaku orang tua sebagai teladan yang dapat dicontoh anak.


 Jadi dapat saya simpulkan bahwa sebagai suatu tempat berlangsungnya proses pendidikan anak maka kedua orang tua merupaka sebagai tanggung jawab dalam terjadinya pendidikan keluarga jadi kedua orang tua harus benar-benar dapat menyikapi dari kenyataan bahwa pendidikan ini terjadi bukan hanya dilingkungan sekolah tertapi di dalam lingkungan keluarga juga karena itu kedua orang tua harus bisa membuat kondisi di lingkungan keluarga dengan baik agar anak bisa mendapatkan pendidikan pertama mereka dari kedua orang tuanya. Cara orang tua dalam mendidik anak nya mungkin bisa dengan cara pengajaran pembiasaan dan keteladanan. Dengan adanya ini diharapkan anak-anak akan tumbuh dan berkembang sebagai manusia yang berpendidikan yang berguna bagi dirinya sendiri, orang tua, dan keluarga mereka sendiri.

Minggu, 18 April 2021

Laporan bacaan 2 (KONSEP KURIKULUM DALAM PENDIDIKAN ISLAM)


Nama : Ardhi Ramadiansyah

NIM    : 11901267

Kelas  : PAI 4B

Judul bacaan : Konsep kurikulum dalam pendidikan Islam

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Laporan bacaan saya kali ini dengan judul “Konsep Kurikulum Dalam Pendidikan Islam” yang ditulis oleh ( Noorzanah) didalam jurnal. Kawan-kawan apa bila tertarik juga untuk membaca jurnal ini bisa dicari nama jurnalnya “Noorzanah. Konsep kurikulum dalam pendidikan islam. Ittihad Jurnal Kopertais wilayah XI kalimantan Volume 15 No.28 Oktober 2017”. Jadi kurikulum pendidikan islam ini merupakan suatu rancangan atau program studi yang berhubungan dengan materi pelajaran islam,tujuan dalam proses pembelajaran, metode dan pendekatan, serta bentuk evaluasinya.

Didalam jurnal ini membahas beberapa materi yang berkaitan dengan konsep kurikulum pendidikan islam, jadi disini saya akan membahas beberapa hal yang telah saya baca terkait kurikulum yang dibahas di dalam jurnal ini.

Pengertian kurikulum pendidikan agama Islam

Pertama di dalam jurnal ini membahas pengertian kurikul pendidikan islam itu sendiri. Jadi kurikulum merupakan suatu rencana yang terdapat dalam suatu proses pembelajaran. Kurikulum juga dapat kita artikan sebagai semua usaha suatu usaha lembaga pendidikan yang direncanakan untuk mencapai tujuan yang disepakati. Pada saat saya membaca jurnal ini ternyata kurikulum ini disusun oleh para pendidikan atau ahli kurikulum, ahli bidang ilmu dan lain-lain, jadi dalam penyusunan kurikulum ini menurut saya tidak boleh asal dalam membuat kurikulum harus orang yang ahli di dalam bidang ini.

Kurikulum adalah kumpulan rencana, tujuan, materi pembelajaran, dan bahkan cara mengajar yang digunakan sebagai pedoman oleh para pengajar atau guru demi tercapainya tujuan akhir pembelajaran. Sedangkan secara etimologis, kurikulum ini berasal dari bahasa yunani yaitu “curir” yang berarti “pelari”, serta “curere” yang artinya “ Tempat berpacu”. Sedangkan menurut undang-undang No 20 tahun 2003, Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggarakan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Sedangkan menurut beberapa pendapat ahli tentang pengertian kurikulum ini seperti pendapat Prof. Dr. S. Nasution, M.A dalam bukunya yang berjudul kurikulumdan pengajaran, beliau menjelaskan bahwa kurikulum adalah serangkaian rencana yang disusun demi melancarkan proses belajar mengajar. Rencana tersebut dilakukan dibawah bimbingan dan tanggung jawab lembaga pendidikan dan para pengajar di lembaga tersebut. Sedangkan  menurut Dr. H. Nana Sudjana, beliau berpendapat bahwa kurikulum merupakan kumpulan niat dan harapan yang tertuang dalam bentuk program pendidikan yang mana dilaksanakan oleg guru di sekolah.

Jadi dapat disimpulkan bahwa kurikulum ini juga merupakan alat atau sarana  yang dirumuskan demi untuk tercapainya suatu tujuan dalam pendidikan melalui proses pengajaran yang dilakukan oleh guru terhadap peserta didik atau siswa.

Sedangkan kurikum pendidikan islam dapat saya simpulkan dari apa yang saya baca dijurnal tersebut, Bahwa kurikulum pendidikan islam ini merupakan suatu bahan-bahan pendidikan islam yang berupa suatu kegiatan, pengetahuan dan pengalaman yang sengaja dan sistematis yang diberikan kepada peserta didik untuk mencapai suatu tujuan pendidikan tersebut.

Tujuan kurikulum pendidikan agama Islam

Dalam pembuatan kurikulum ini juga pasti ada tujuan dalam pembuatannya terutama dalam pendidikan agama islam, jadi dapat saya pahami salah satu tujuan kurikulum pendidikan agama islam, jadi dalam mencapai tujuan pendidikan agama islam diperlukan  adanya suatu kurikulum yang harus sesuai dengan tujuan pendidikan agama islam dan harus sesuai dengan tingkat usia, tingkat perkembangan kejiwaan anak dan kemampuan pelajar. Maka tujuan kurikulum pendidikan agama islam bertujuan untuk menanamkan kepercayaan dalam pemikiran dan hati generasi muda, pemulihan akhlak dan membangunkan jiwa rohani.

Metode kurikulum pendidikan agama islam

Dalam pembuatan kurikum pendidikan agama islam ini yang saya baca dalam jurnal tersebut, harus bisa mendesain kurikulum yang menarik dan bermanfaat dan metode yang digunakan harus serasi dengan isi dan konteks sosial kekinian. Jadi untuk mengemas pembelajaran tersebut maka harus mengunakan metode yang afektif. Menurut Syukri zarkasyi “metode itu lebih penting dari pada materi, akan tetapi guru lebih penting dari metode, dan jiwa guru lebih penting dari guru itu sendiri”. Menurut saya makna yang disampaikan oleh Syukri Zarkasyi ini sangat lah mendalam untuk saya karana menurut saya makna ini sangatlah berguna untuk saya sebagai calon guru atau seorang pendidik karena dalam metode, materi atau pun guru itu sendiri, lebih penting yaitu mengenal jiwa seseorang guru terutama jiwa kita apabila menjadi guru itu lebih penting daripada suatu metode, materi dan lain sebagainya.

Metode dapat saya pahami yaitu cara yang digunakan dalam pendidikan atau tenaga pendidikan dan peserta didik dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Jadi metode ini merupakan alat yang berfungsi untuk menciptakan interaksi antara guru dan siswa dalam mempelajari suatu materi. Guru atau pendidik ini memiliki peran aktif dalam proses pembelajaran karena guru  sebagai penggerak, fasilitator, pembimbing dan seterusnya.

Menurut Ahmad Tafsir (1994), metode pendidikan agama islam yang saat ini yang digunakan pendidik, merupakan hasil dari metode  yang dikembangkan oleh orang barat. Metode yang kita terapkan itu seperti metode ceramah, brainstorming,  soal jawab, diskusi, dan lain-lain. Maka dari itu untuk mengimplementasikan metode ini diperlukan cara yang tepat dari para guru agar compatible dengan visi-misimateri, tujuan materi, dan karakteristik materi.

Materi kurikulum pendidikan agama Islam

Biasannya materi kurikulum pendidikan agama islam ini yang saya ketahui hanya ajaran pokok islam seperti aqidah, syari’ah, dan akhlak. Biasa nya dijabarkan lagi dalam bentuk rukun iman, islam, dan ihsan. Jadi dalam merumuskan kurikulum menurut al-Abrasyi dalam Ahmad tafsir (1994), harus mempertimbangkan lima prinsip, yaitu; (1) mata pelajaran ditunjukan untuk mendidik rohani atau hati, jadi dapat saya pahami materi ini harus berhubungan dengan kesadaran kita dalam ketuhanan yang mampu diterjemahkan ke dalam setiap gerak dan langkah kita. (2) mata pelajaran yang diberikan berisi tentang tuntunan cara hidup. Jadi pelajaran ini menurut saya bukan hanya untuk mempelajari ilmu fiqh mau pun akhlak tetapi yang paling penting ilmu ini menuntun kita untuk meraih kehidupan yang unggul dalam segala dimensinya. (3) mata pelajaran yang disampaikan hendaknya mengandung ilmiah. (4) mata pelajaran yang diberikan harus bermanfaat secara  praktis bagi kehidupan, (5) mata pelajaran yang disampaikan harus membingkai terhadap materi lainnya.

 Dapat saya simpulkan dari pemahaman saya tentang merumuskan kurikulum atau materi pendidikan agama islam ini harus ada beberapa hal yang penting yaitu mendidik rohani atau hati, mata pelajaran harus berisi tuntunan cara hidup, mata pelajaran harus mengandung ilmiah, mata pelajaran ini juga harus bermanfaat secara praktis bagi kehidupan, dan harus membingkai terhadap materi lainnya.

Evaluasi kurikulum pendidikan Agama Islam

Dalam kurikulum agama Islam ini juga harus dilakukan evaluasi karena dalam menentukan hasil atau proses dari sebuah kegiatan dan aktivitas memerlukan avaluasi. Dapat saya pahami evaluasi merupakan suatau pengumpulan yang dilakukan secara  sistematis untuk menetapkan apakah ada terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan yang terjadi disiswa. Sedangkan  menurut Stufflebeam, yang dikutip suke Silverius (1991), menyatakan bahwa evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk menilai alternatif keputusan.

Ada beberapa fungsi dalam evaluasi menurut Wayan Nurkancana dan Sumartana (1986), yaitu: (1) untuk mengetahui taraf kesiapan peserta didik dalam menempuh suatu pendidikan, (2) untuk mengetahui seberapa jauh hasil yang telah dicapai dalam proses pendidikan, (3)untuk mengetahui apakah suatu mata pelajaran yang diajarkan dapat dilanjutkan dengan bahan yang baru, (4) untuk mendapatkan bahan –bahan informasi dalam memberikan bimbingan.

Jadi hasil dari evaluasi ini mempunyai makna bagi beberapa pihak, evaluasi ini bermakna untuk semua komponen proses pengajaran terutama siswa, guru, orangtua, masyarakat dan sekolah. Jadi dari hasil evaluasi ini sangat menentukan langkah serta bagaimana kebijakan yang akan direncanakan.

Karakteristik kurikulum pendidikan agama islam

Dalam kurikulum pendidikan agama islam ini memiliki beberapa karakter atau ciri-ciri nya didalam jurnal ini dibahas tentang karakteristik, menurut Abudurrahman al-Nahlawi, dalam majid (2004), menjelaskan bahwa kurikulum pendidikan islam harus memenuhi beberapa kriteria, yaitu: (1) memiliki sistem pengajaran dan materi yang selaras dengan fitrah manusia serta bertujuan untuk mensucikan jiwa manusia, memelihara dari penyimpangan dna menjaga keselamatan fitrah manusia. (2) tujuan pendidikan islam yaitu memurnikan ketaatan dan peribadatan hanya kepada Allah. (3) Harus sesuai dengan tingkatan pendidikan baik dalam hal karakteristik, tingkat pemahaman, tugas –tugas kemasyarakatan yang telah dirancang dalam kurikulum. (4) Memperhatikan tujuan-tujuan masyarakat yang realistis, menyangkut penghidupann dan bertitik tolak dari keislaman yang ideal. (5) Tidak bertentangan dengan konsep dan ajaran islam, melainkan harus memahami konteks ajaran islam yang selama ini belum tergali makna dan sumber kebenarannya. (6) Rancangan kurikulum harus realistis sehingga dapat diterapkan selaras  dengan kesanggupan peserta didik dan sesuai dengan keadaan masyarakat. (7) Harus memilih metode dan pendekatan yang relevan dengan kondisi materi belajar mengajar, dan suasana lingkungan pembelajaran dimana kurikulum tersebut diselenggarakan. (8) Kurikulum pendidikan islam harus efektif, dapat memberikan hasil pendidikan yang bersifat pemahaman, penghayatan, dan pengalaman. (9) Harus sesuai dengan berbagai tingkatan usia peserta didik. (10) Memperhatikan aspek pendidikan tentang segi-segi perilaku yang bersifat aktivitas langsung.

Sedangkan menurut Syaibani dalam Muhaimin dan Abd. Mujib (1993) menempatkan empat dasar pokok karakteristik dalam kurikulum pendidikan islam, yaitu dasar religi, dasar falsafah, dasar psikologis, dan dasar sosiologis, dan dapat pula ditambah dasar organisatoris.

 

 

 

 

Senin, 12 April 2021

Laporan bacaan : MANAJEMEN KELAS (Magang 1)

 Nama   : Ardhi Ramadiansyah

NIM        : 11901267

Kelas       : PAI 4B

Mata kuliah : Magang 1


Pada minggu ini saya membaca mengenai manajemen kelas menurut saya sebagai calon pendidik atau calon guru, sangatlah penting dalam memahami manajemen kelas karena itu saya membaca terkait materi ini di Jurnal “ Alfian Erwinsyah. Manajemen kelas dalam meningkatkan efektifitas proses belajar mengajar. TADBIR: Jurnal manajemen pendidikan Islam. Volume 5, Nomor 2 agustus 2017.” Kawan – kawan yang tertarik mempelajari materi manajemen kelas ini bisa baca di situ, menurut saya di dalam jurnal ini sangat membantu saya dalam memahami bagaimana dalam mempelajari suatu manajemen kelas. Di dalam laporan ini saya ingin membahas apa yang telah saya baca terkait pemahaman saya terhadap manajemen kelas ini.

Disini saya akan membahas sedikit tentang apa itu manajemen kelas, Mencari tau apa saja unsur-unsur pengelolaan kelas, saya juga berusaha memahami fungsi dan tujuan dari manajemen kelas, sampai saya juga memahami prosedur yang ada di manajemen kelas dan masih banyak lagi yang saya baca dari jurnal itu. Jadi saya akan membahas sepahaman saya dari membaca jurnal ini agar saya lebih mudah dalam mengingat lagi apa yang sudah saya baca.

Pengertian manajemen kelas 

Jadi dapat saya pahami bahwa manajemen ini banyak sekali arti seperti pengelolaan, penyelenggaraan, ketatalaksanaan dan masih banyak yang lain, sedangkan kelas dapat saya artikan sebagai suatu ruangan khusus tempat peserta didik berkumpul pada saat mengikuti proses belajar mengajar. Jadi dapat saya simpulkan bahwa manajeman kelas adalah suatu pengelolaan atau juga sebagai kemampuan sorang pendidik dalam mengali potensi siswa yang ada didalam kelas dan untuk menciptakan suasana yang kondusif dan diharapkan dapat menciptakan suasana belajar mengajar dikelas dapat berjalan dengan aktif.



Dalam manajemen kelas ini juga saya harus bisa memahami unsur-unsur dalam pengelolaan kelas, karena ini sangat penting apa bila nanti saya sebagai calon guru atau pendidik dalam memahami bagaimana membuat kelas ini menjadi tempat yang menyenangkan bagi siswa dan saya sendiri, maka dari itu saya ada membaca terkait unsur –unsur pengelolaan kelas, dan disini saya akan menjelaskan sedikit tentang unsur-unsur tersebut.

Unsur-unsur pengelolaan kelas

Dalam unsur pengelolaan kelas ini saya hanya bisa paham tiga point yang menurut saya sangat penting , yaitu:

Preventif, ini merupakan upaya yang harus dilakukan guru dalam mencegah apabila terjadinya suatu gangguan dalam pembelajaran. Dalam tindakan prevantif ini guru haru memiliki dua keterampilan yaitu, tanggap atau peka, dan perhatian.

 Refrensif, keterampilan ini bukan diartikan sebagai suatu tindakan kekerasan, melaikan suatu keterampilan pengelolaan kelas.

Motifikasi tingkah laku, karena tingkah laku ini dapat kita amati maka karena itu setiap pendidik harus dapat memahami tingkah laku peserta didik, agar proses belajar mengajar dikelas berjalan dengan efektif.

Selain itu juga saya bisa memahami apa tujuan dari manajemen kelas ini, disini saya sadar bahwa manajemen kelas ini sangatlah penting bagi pendidik maupun peserta didik. Jadi saya akan membahas sedikit tentang tujuan manajemen kelas ini terhadap pendidik atau peserta didik.

Tujuan dalam manajemen kelas terhadap pendidik atau guru , yaitu untuk mengatur dalam kegiatan peserta didik dan menunjang dalam proses pembelajaran di dalam kelas agar proses pembelajaran ini dapat berjalan lancar, tertib, dan afektif sehingga dapat mencapai tujuan sekolah dan tujuan dalam pendidikan. Adapun tujuan yang paling penting dilakukan nya manajemen kelas ini yaitu agar pengajaran dapat dilakukan secara maksimal, memberi kemudahan dalam melihat kemajuan siswa dalam pembelajaran, dan untuk memudahkan dalam mengangkat masalah-masalah penting untuk dibicarakan dikelas.

Adapun tujuan untuk siswa yaitu untuk mendorong siswa untuk mengembangkan tanggung jawab individu terhadap tingkah lakunya, membantu siswa untuk mengetahui tingkah laku yang sesuai dengan tata tertib kelas, dan membangkitkan rasa tanggung jawab untuk melibatkan diri dalam tugas. Adapun tujuan untuk guru yaitu, mengembangkan pemahaman dalam penyajian pelajaran, untuk memiliki kemampuan dalam memberi petunjuk secara jelas kepada siswa, dan untuk merespon secara efektif terhadap tingkah laku siswa yang mengganggu.


Prinsip –prinsip manajemen kelas

Jadi seorang guru atau pendidik harus memahami prinsip dasar yang terkait tentang manajemen kelas, karena prinsip-prinsip dasar ini sangat dibutuhkan untuk memperkecil suatu masalah atau gangguan pada saat dalam mengelola kelas. Prinsip-prinsip manajemen kelas ini sebagai berikut, yaitu:

Guru harus hangat dan antusias

Guru harus mampu memberikan tantangan

Guru harus bersikap luwes

Beri penekanan pada hal positif

Penanaman disiplin diri

Prosedur dalam manajemen kelas

Adapun prosedur manajemen kelas ini dapat dilakukan dengan secara pencegahan (preventif) maupun penyembuhan (kuratif) kedua jenis pengelolaan kelas ini akan sangat berpengaruh terhadap langkah-langkah yang harus dilakukan seorang guru dalam menerapkannya. Apa bila dilakukan secara preventif, upaya yang dilakukan inisiatif oleh guru itu sendiri untuk mengatur siswa, format belajar dan lain-lain. Sedangkan manajemen kelas secara kuratif adalah langka-langka tindakan penyembuhan terhadap tingkah laku menyimpang yang dapat mengganggu kondisi-kondisi optimal dan proses belajar mengajar.

Dalam memahami manajemen kelas yang bersifat preventif dan kuratif ini kita harus memahami prosedur nya yaitu prosedur bersifat preventif dan kuratif.

Prosedur manajemen kelas yang bersifat preventif meliputi: (a) Peningkatan kesadaran guru sebagai pendidik, (b) Peningkatan kesadaran siswa, (c) Penampilan sikap tulus guru (d) Mengenal tingkah laku siswa, (e) Mencari alternatif manajemen kelas, dan (f) Kontrak sosial

       Selain itu juga ada Prosedur manajemen kelas yang bersifat kuratif meliputi: (a) Identiffikasi masalah, (b) Analisis masalah (c) Penetapan alternatif pemecahan (d) Monitoring, (e) Memanfaatkan umpan balik.


Selain itu juga saya dapat memahami bagaimana pendekatan antara guru ke siswa dalam manajemen kelas ini, jadi disini saya akan sedikit menjelaskan nya. Jadi Pendidik atau guru dalam manajemen kelas ini juga harus tau bagaimana cara pendekatan yang dilakukan kepada peserta didik atau siswa, karena pendekatan ini sangat mempengaruhi dalam suatu manajemen kelas. Pendekatan ini dipengaruhi oleh pandangan seorang guru terhadap suatu sikap atau tingkah laku siswa, bisa dilihat dari watak atau sifat siswa, dan keadaan kelas pada waktu seorang siswa melakukan kesalahan atau penyimpangan.

Pendekatan yang paling afektif yang dapat kita lakukan sebagai calon guru atau pendidik yaitu :

Pendekatan manajerial

Ini melihat dari sudut manajemen yang berkonsep tentang suatu kepemimpinan. Jadi sebagai calon pendidik atau guru harus bisa menjadi pemimpin yang baik dalam kelas agar siswa atau peserta didik bisa mengikuti sikap dan tingkah laku guru atau pendidik yang baik.

Dalam pendekatan manajerial ini juga dibedakan menjadi beberapa poit yang sangat penting, yaitu; 

Kontrol otoriter, dapat saya pahami yaitu guru harus menegakkan kesiplinan dalam kelas. Karena menurut konsep ini siswa harus punya sikap yang baik, seperti siswa duduk, diam, dan dapat mendengarkan perkataan guru pada saat di dalam kelas.

Kebebasan Liberal, jadi siswa mempunyai hak sepenuhnya untu melakukan kegiatan apa saja sesuai dengan tingkat perkembangan nya. Jadi siswa mempunyai kebebasan dalam melakukan kegiatan apapun didalam kelas maupun dilingkungan sekolah. Menurut saya dalam kebebasan ini juga guru harus selalu memperhatikan siswa agar siswa ini tidak melakukan kekacauan atau kericuhan dilingkungan kelas.

Kebebasan Terbimbing, jadi kebebasan ini merupakan gabungan antara kontrol otoriter dan kebebasan liberal. Jadi dapat kita pahami bahwa siswa diberi kebebasan sebagai hak siswa tetapi siswa juga harus dihindarkan dari perilaku yang negatif agar terhidar dari penyalahan kebebasan.

Pendekatan kekuasaan

Pendekatan ini merupakan suatu sikap konsistensi seorang guru untuk menjadikan norma atau aturan dalam kelas sebagai suatu acuan menegakkan kedisiplinan. Jadi dalam proses ini guru mempunyai peran yang sangat penting dalam menciptakan situasi yang baik serta mengarahkan siswa agar bisa disiplin dalam kelas, sehingga belajar mengajar menjadi efektif.

Pendekatan ancaman

Pendekatan ini juga harus perlu dilakukan guru untuk menangani kelas yang baik tetapi guru atau pendidik tidak harus sering mengunakan pendekatan ini, bditerapkan apabila kondisi kelas sudah benar-benar tidak dapat dikendalikan lagi.

Pendekatan pengajaran

Disini guru harus mempu membuat perencanaan pengajaran sekaligus menerapkan di kelas, karena pendekatan ini sangatlah efektif untuk mengelola kelas yang baik.


Bukan hanya itu saja dalam manajemen kelas ini saya ada membaca terkait tentang Seorang guru juga harus mampu mengelola proses belajar mengajar yang baik agar dalam proses belajar mengajar ini menciptakan kondisi yang memungkinkan anak untuk belajar, ini merupakan titik awal dari keberhasilan dalam pengajaran. Jadi guru mempunyai tugas dan peran dalam implementasi pengelolaan proses belajar menurut Syaiful Bahri Djamarah (2002). Jadi saya akan menuliskan point-point yang penting saja, jadi dijelaskan bahwa guru mempunyai tugas dan peran , yaitu: (1) perencanaan, (2) pengorganisasian, (3)pengarahan, (4) pengawasan. Jadi dari keempat ini merupakan tugas dan peran sebagai seorang guru jadi saya bisa memahami tugas dan peran itu untuk bekal saya pada saat saya menjadi guru agar saya bisa membuat terbaik dalam mendidik dan menjadi panutan bagi siswa saya nanti.

Ada juga faktor –faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran, pada saat saya membaca jurnal ini saya mengetahui apa saja faktor yang dapat mempengaruhi prosesnya pembelajaran, ternyata banyak sekali faktornya, maka dari itu saya akan menjelaskan secara singkat faktor tersebut agar nanti saya bisa lebih memahami nya lagi.

Jadi faktor – faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran , antara lain : 

pengajaran berbasis motivasi, didalam faktor ini juga terbagi menjadi tiga unsur yaitu; motivasi dimulai dari adanya perubahan energi dalam pribadi, motifasi ditandai dengan timbulnya perasaan, dan motivasi ditandai dengan reaksi untuk mencapai suatu tujuan.

pengejaran berbasis aktivitas, yang dapat saya pahami disini bahwa kegiatan mandiri diangga sebagian guru tidak ada maknanya, maka karena itu system penuangan lebih mudah pelaksanaannya bagi guru dan tidak ada sedikit masalah atau kesulitan.

 pengajaran berbasisi perbedaan individu, disini dapat disimpulkan bahwa perbedaan individu ini merupakan suatu kesatuan yang memiliki ciri-ciri yang khasnya tidak akan ada yang sama antara individu yang lainnya. Maka karena itu pasti masing-masing individu ini memiliki kelebihan dan kelemahannya.

 pengajaran berbasis lingkungan, jadi berbasis lingkungan disini dapat kita simpulkan lingkungan sebagai sebagai rangsangan terhadap individu dan individu memberikan suatu respon terhadap lingkungan.

 Ini merupakan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi suatu proses pembelajaran maka dari itu kita sebagai calon pendidik harus bisa memahami faktor-faktor tersebut.