Selasa, 15 Juni 2021

Laporan bacaan : 4

 Laporan bacaan: Psikologi perkembangan peserta didik.

Ardhi Ramadiansyah_11901267_PAI 4B

Bismillahirrahmanirrahim

Pada minggu ini saya membaca sebuah e-book dengan judul buku nya “Psikologi perkembangan peserta didik” yang ditulis oleh Dra. Desmita, M.Si. jadi disini saya akan menjelaskan sedikit tentang psikologi perkembangan peserta didik dari apa yang saya baca agar teman-teman dapat memahami nya. Apa bila teman-teman ingin membaca secara seluruhnya silahkan buka “ https://difarepositories.uin-suka.ac.id “. 


Sebelum kita mengetahu lebih lanjut terkait psikologi perkembangan peserta didik, sebaiknya kita memahami terlebih dahulu apa itu psikologi. Jadi dapat saya pahami bahwa psikologi merupakan suatu disiplin ilmu yang sangat besar manfaatnya bagi kehidupan kita atau manusia. Karena psikologi ini merupakan disiplin ilmu yang telah menyentuh hampir seluruh deminsi kehidupan manusia, kita bisa lihat dari teori-teori atau riset psikologi yang telah digunakan secara luas dalam berbagai lapangan kehidupan, seperti ekonomi, kesehatan, pendidikan dan lain sebagainya.

Secara umum kita dapat membedakan psikologi menjadi dua cabang yaitu psikologi teoi’etis dan psikologi terapan. Jadi psikologi teoretis dapat pula dibedakan atas dua bagian yaitu psikologi umum dan psikologi khusus. Dapat dijelaskan psikologi umum merupakan psikologi teoretis yang mempelajari aktivitas-aktivitas mental manusia yang bersifat umum dalam rangka mencari dalil-dalil umum dan teori-teori psikologi. Sedangkan psikologi Khusus ini kemungkinan akan terus berkembang sesuai dengan situasi dan kebutuhan.
Jadi dari pengertian ini dapat kita pahami bahwa psikologi perkembangan peserta didik merupakan bidang kajian psikologi perkembangan yang secara khusu mempelajari aspek-aspek perkembangan individu yang berada pada tahap usia sekolah dasar dan sekolah menengah. Kita juga harus memahami tujuan dari psikologi perkembangan peserta didik, jadi tujuan dari psikologi ini yaitu memberikan, mengukur dan menerangkan perubahan dalam tingkah laku serta kemampuan yang sedang berkembang sesuai dengan tingkatan usia dan mempunya ciri-ciri universal dalam artian yang berlaku bagi anak-anak di mana saja dan dalam lingkungan sosial-budaya mana saja.
Setelah kita memahami ini semua kita harus mengetahu tentang konsep perkembangan peserta didik. Disini kita harus paham terlebih dahulu apa itu perkembangan dan pertumbuhan, jadi dapat saya pahami dari apa yang telah saya baca bahwa perkembangan tidaklah terbatas pada pengertian pertumbuhan yang semakin membesar, melainkan didalamnya juga terkandung serangkaian perubahan yang berlangsung secara terus menerus dan bersifat tetap dari fungsi-fungsi jasmaniah dan rohaniah yang dimiliki individu menuju ketahap kematanagan melalui pertumbuhan, pemasakan dan belajar. Sedangkan pertumbuhan dalam konteks perkembangan merujuk perubahan-perubahan yang bersifat kuantitatif, yaitu peningkatan dalam ukuran dan struktur seperti pertumbuhan badan, pertumbuhan kaki, kepala,dan lain sebagainya.
Selain itu kita juga harus memahami fase perkembangan jadi maksudnya adalah penahapan atau periodesasi rentang kehidupan manusia yang ditandai oleh ciri-ciri atau pola-pola tingkah laku tertentu. Meskipun masing-masing anak mempunyai masa perkembangan yang berlainan satu sama lain. 
Dapat saya tulis disini menurut Aristoteles, ia membagi fase perkembangan manusia sejak lahir sampai usia 21 tahun ke dalam tiga masa, dimana setiap fase meliputi masa tujuh tahu, yaitu; (1) fase anak kecil atau masa bermain (0 – 7 tahun) yang diakhiri dengan tanggal atau pergantian gigi. (2) fase anak sekolah atau masa belajar (7 -14 tahun) yang dimulai dari tumbuhnya gigi baru sampai timbulnya gejala berfungsinya kelenjar-kelenjar kelamin. (3) fase remaja (pubertas) atau masa peralihan dari anak menjadi dewasa (14-21 tahun) yang dimulai dari mulai bekerjanya kelenjar-kelenjar kelamin sampai akan memasuki masa dewasa.
Selain itu di dalam buku ini juga saya ada membaca sebuah periodesasi perkembangan menurut konsep Islam, ini salah satu yang sangat menarik menurut saya karena ternyata di dalam Al-qur’an dan hadits ada menjelaskan tentang perkembangan, jadi perkembangan individu secara garis besarnya dapat dibedakan atas tiga fase, yaitu; (1) periode Pra-konsepsi, yaitu perkembangan manusia sebelum masa pembuahan sperma dan ovum. (2) periode pra-natal, yaitu periode perkembangan manusia yang dimulai dari pembuahan sperma dan ovum sampai masa kelahiran. Jadi pada periode ini dibagi atas empat fase yaitu; (a) fase Nuthfah (zigot) dimulai sejak pembuahan sampai usia 40 hari dalam kandungan, (b) fase alaqah (emrio) selama 40 hari, (c) fase mudhghah (janin) selama 4 hari dan (d) fase peniupan ruh ke dalam jasad janin dalam kandungan setelah genap berusia 4 bulan. (3) Periode kelahiran sampai meninggal dunia.

Selain itu di dalam buku tersebut menjelaskan tentang aspek-aspek perkembangan peserta didik, jadi secara umum perkembangan peserta didik dapat dikelompokan ke dalam tiga aspek perkembangan yaitu perkembangan fisik, kognitif dan psikososial. Perkembangan aspek fisik atau biologis meliputi perubahan-perubahan dalam tubuh (seperti pertumbuhan otak, sistem saraf, organ-organ indrawi, pertambahan tinggi dan berat, hormon, dll) dan perubahan-perubahan dalam cara-cara individu dalam menggunakan tubuhnya, dan serta perubahan dalam kemampuan fisik. sedangkan perkembangan aspek kognitif merupakan salah satu aspek perkembangan peserta didik yang berkaitan dengan pengertian (pengetahuan) yaitu semua proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari dan memikirkan lingkungannya. Dan yang terakhir yaitu perkembangan aspek psikososial merupakan proses perubahan kemampuan –kemampuan peserta didik untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial yang lebih luas.

Jadi dalam perkembangan peserta didik ini mempunya karakteristik di setiap tingkatan dan usia sekolah, jadi karakteristik anak usia sekolah dasar (6-12 tahun) jadi pada usia ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan anak-anak yang usianya ebih muda, ia senang bermain, bergerak, bekerja dalam kelompok, dan senan merasakan atau melakukan sesuatu secara langsung. Menurut Havighurst, tugas perkembangan anak usia sekolah dasar meliputi: (1) menguasai keterampilan fisik yang diperlukan dalam permainan dan aktivitas fisik, (2) membina hidup sehat, (3) belajar bergaul dan bekerja dalam kelompok, (4) belajar menjalankan peranan sosial sesuai dengan jenis kelamin, (5) belajar membaca, menulis dan berhitung.
Sedangkan karakteristik anak usia sekolah menengah (smp) berada pada tahap perkembangan pubertas (10-14 tahun) terdapat karakteristik yang menonjul yaitu; (1) terjadinya ketidak seimbangan proporsi tinggi dan berat badan. (2) mulai timbulnya ciri-ciri seks sekunder (3) kecenderungan ambivalensi, antara keinginan menyendiri dengan keinginan bergaul, serta keinginan untuk bebas dari dominasi dengan kebutuhan bimbingan dan bantuan dari orang tua, (4) senang membandingkan kaedah-kaedah, nilai-nilai etika dan norma dengan kenyataan yang terjadi dalam kehidupan orang dewasa. (5) mulai mempertanyakan secara skeptis mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan tuhan. (6) reaksi dan ekspresi emosi masih labil.
Yang terkhir yaitu karakteristik anak usia remaja ( SMA) pada usia 12-21 tahun merupakan masa peralihan antara masa kehidupan anak-anak dan masa kehidupan orang dewasa, jadi pada masa ini ditandai dengan sejumlah karakteristik yaitu; (1) mencapai hubungan yang matang dengan tema sebaya, (2) dapat menerima dan belajar peran sosial sebagai pria atau wanita dewasa yang dijunjung tinggi oleh masyarakat, (3) menerima keadaan fisik dan mampu menggunakannya secara efektif, (4) mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya, (5) memilih dan mempersiapkan karier di masa depan sesuai dengan minat dan kemampuannya.
  
  Mungkin cukup disini dulu nanti saya akan lanjutkan pembahasan dari buku yang saya baca ini terkait Psikologi perkembangan peserta didik.


Selasa, 08 Juni 2021

Laporan bacaan


 Laporan Bacaan : “Pendidikan keluarga dan tanggung jawab orang Tua dalam Pendidikan anak usia dini”

  


Ardhi Ramadiansyah_11901267

Bismillahirrahmanirrahim

Kali ini saya akan membahas sedikit tentang pendidikan keluarga. Sebelum itu sebaiknya kita mengetahui apa itu pendidikan keluarga, teori-teori pendidikan keluarga pada anak usia dini dan lain sebagainya. Ini semua akan saya bahas pada laporan bacaan saya, loporan ini berdasarkan sumber yang telah saya baca sebelumnya. Jadi apabila teman-teman yang ingin membaca secara lengkap bisa dilihat di jurnal “ M.Syahran jailani. Teori pendidikan keluarga  dan tanggung jawab orang Tua dalam pendidikan Anak Usia Dini. Nadwa Jurnal Pendidikan Islam.vol 8. Nomor 2, oktober 2014”.

Baiklah disini saya akan membahas terkait pendidikan keluarga. Menurut Mansur, pendidikan keluarga merupakan proses pemberian nilai-nilai positif bagi tubuh kembangnya anak sebagai pondasi pendidikan selanjutnya. Sedangkan menurut Abdullah juga mengartikan bahwa pendidikan keluarga adalah segala usaha yang dilakukan oleh orang tua berupa pembiasaan dan improvisasi untuk membantu perkembangan pribadi anak. Selain itu menurur Ki Hajar Dewantara menjelaskan bahwa alam keluarga bagi setiap orang (anak) adalah alam pemdidikan permulaan, jadi untuk pertama kalinya orang tua berkedudukan sebagai penuntun (guru) sebagai pengajar, sebagai pendidikan, pembimbing dan sebagai pendidik yang utama diperoleh anak. 

Dalam pendidikan keluarga  pada Anak Usia Dini , mempunnyai teori-teori terkait hal tersebut antara lain seperti menurut J.H. Pestolozzin (1746-1827), jadi menurutnya pendidikan sebaiknya mengikuti sifat-sifat bawaan anak (child’s nature). Dasar dari pendidikan ini mengunakan metode yang merupakan perpaduan antara dunia alam terutama alam keluarga dan pendidikan yang praktis.  Sedangkan menurut Friedrich Frobel (1782-1852), di dalam gagasannya di antara nya bermain, bernyanyi dan berbagai macam pekerjaan anak-anak yang diberikan, guna memberi pengalaman langsung kepada anak. Sedangkan teori dari Abu Hamid Muhammad Al-Gazali, dalam konsep pendidikan mengatakan bahwa pendidikan agama harus dimulai sejak usia dini  sebab, dalam keadaan ini anak siap untuk menerima aqidah-aqidah agama semata atas dasar iman, tanpa meminta dalil untuk menguatkannya atau menuntut kepastian dan penjelasan.

 Salah satu tokoh yang sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan di indonesia yaitu Ki Hajar Dewantara, memiliki konsep pendidikan beliau yang dituangkan melalui “Tri Sentra Pendidikan” yang dikembangkan di perguruan taman siswa, yaitu sentra keluarga, sentra perguruan dan sentra masyarakat. Jadi dalam konteks sentra keluarga , pendidikan keluarga telah melahirkan konsep “among” dimana konsep ini menuntut para orang tua untuk bersikap yaitu; (1) ing ngarso sung tolodo, (2) ing madya mangun kasra, (3) tut wuri handayani.


Selain dijelaskan pengertian pendidikan keluarga dan teori-teori pendidikan keluarga pada anak usia dini, didalam jurnal itu juga menjelaskan bagaimana implikasi dari teori-teori tersebut. Di dalam undang-undang sistem pendidikan nasional nomor 20 Tahun 2003, Bab I pasal 1 ayat 13, menyebutkan bahwa “ pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan”. Selanjutnya pada pasal 27 ayat 1, mempertegas bahwa “ kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga  dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri”.

Dalam pendidika keluarga ini belum sepenuhnya dilaksanakan oleh orang tua yang memiliki anak-anak di rumah, banyak sekali faktor yang menjebabkan belum optimal dipraktikkan dalam kehidupan keseharian para orang tua dalam mendidik anaknya dirumah, faktornya yaitu; (1) kurangnya pengetahuan dan pemahaman orang tua dalam mendidik anak, (2) lemahnya peran sosial budaya masyarakat dalam membangun kesadaran akan pentingnya pendidikan keluarga. (3)kuatnya desakan dan tarikan pergulatan ekonomi para orang tua. (4)kemajuan arus teknologi informasi yang meluas turut pula mempengaruhi cara berpikir dan bertindak para orang tua.


Selain dari jurnal ini saya ada juga membaca di jurnal yang lain membahas tentang pendidikan keluarga , bagi kawan –kawan yang ingin membaca secara lengkap boleh dilihat di jurnal “ Hasbi wahy. Keluarga sebagai basis pendidikan pertama dan utama, Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA, februari 2021, VOL.XII No 2. Hal 245-258.”  Jadi didalam jurnal ini membahas tentang pedidikan dan tanggung jawab orang tua, tantangan dan mendidik anak dan peran anggota keluarga terhadap anak, dll.

Menurut Zakiah Dradjat mengatakan  bahwa orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan, dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga. Dalam hal ini kedua orang tua memiliki tanggung jawab, menurut Fuad Ihsan, yaitu; (1) memilihara dan membesarkannya. (2) melindungi dan menjamin kesehatannya. (3) mendidik dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi hidupnya. (4) membahagiakan anak untuk dunia dan akhirat dengan memberikanya pendidikan agama.

Dalam mendidik anak ini pastinya memiliki sebuah tantangan, jadi tantangan dalam pendidikan anak dapat dibagi menjadi dua yaitu tantangan yang berasal dari dalam (intern) dan dari luar (ekstern), kedua tantangan ini saling mempengaruhi dalam upaya pendidikan anak. Jadi ada sumber tantangan yang berpengaruh  dari dalam (intern)  yaitu orang tua si anak itu sendiri, karena  banyak orang tua yang kurang paham dan tidak memahami bagaimana cara memdidik anak yang baik. Sedangkan tantangan yang lain yaitu berasal dari anggota keluarga, biasanya orang tua mungkin sudah berusaha dalam mendidik anak mereka dengan baik namun ada penyebab lain yang bersal dari anggota keluarga yang merusak suasana.

Sedangakan dalam tantangan yang berpengaruh dari luar (ekstern), ini sangat luas sekali berbagai informasi akan mempengaruhi perkembangan anak dari segala sisi, seperti dari lingkungan masyarakat, karena lingkungan masyarakat ini merupakan tantangan yang tidak dapat dielakan karena anak pasti pasti melakukan interaksi dengan lingkungannya anak membutuhkan teman bermain dan kawan sebaya yang dapat berbicara. Selain itu ada juga tantangan dari lingkungan rumah yang jauh dari nilai-nilai islam bisa melunturkan pendidikan yang ditanampakan di rumah. Ada juga lingkungan sekolah bisa menjadi sumber tantangan , karena bagaimanapun guru-guru di sekolah tidak akan mampu dalam mengawasi anak didiknya di setiap saat. Karena interaksi anak dengan teman-temannya disekolah yang memiliki perilaku yang bervariasi, apabila tidak dipantau dengan baik oleh guru atau orang tuanya bise berdapak negatif.

Jadi dalam pendidikan keluarga ini ada peranan anggota keluarga terhadap anak, biasanya kebanyakan keluarga yang memegang peranan yang terpenting adalah ibu terhadap pendidikan anak-anaknya. Sesuai dengan fungsi seta tanggung jawab sebagai anggota keluarga, dapat disimpulkan bahwa peranan ibu dalam pendidikan anak-anaknya sebagai berikut ; (1) sumber dan pemberi rasa kasih sayang, (2) pengasuh dan pemelihara, (3) tempat mencurahkan isi hati, (4) pengatur kehidupan dalam rumah tangga, (5) pembimbing hubungan peribadi, dan (6) pendidikan dalam segi-segi emosional. Jadi dapat kita pahami bahwa seorang ibu itu snagat memegang peranan penting dalam dunia pendidik anak.

Dalam pendidikan keluarga juga mempunya fungsi dan peranan, jadi pendidikan keluarga ini merupakan pengalaman pertama masa kanak-kanak, jadi dimaksud pertama bahwa kehadiran anak di dunia ini disebabkan hubungan kedua ornang tuanya, mengingat orang tua  yang harus bertanggung jawab terhadap pendidikan anak-anaknya. Selain itu pendidikan keluarga juga bertujuan untuk menjamin kehidupan emosional anak, hal ini dikarenakan adanya hubungan darah antara pendidik dengan anak didik sehingga menumbuhkan hubungan yang didasarkan atas cinta kasih sayang yang murni. Selain itu juga pendidikan keluarga bertujuan untuk menanamkan dasar pendidika moral, karena biasanya pendidikan moral ini dasar-dasar pendidikan moral bagi anak yang biasanya tercemin dalam sikap dan perilaku orang tua sebagai teladan yang dapat dicontoh anak.


 Jadi dapat saya simpulkan bahwa sebagai suatu tempat berlangsungnya proses pendidikan anak maka kedua orang tua merupaka sebagai tanggung jawab dalam terjadinya pendidikan keluarga jadi kedua orang tua harus benar-benar dapat menyikapi dari kenyataan bahwa pendidikan ini terjadi bukan hanya dilingkungan sekolah tertapi di dalam lingkungan keluarga juga karena itu kedua orang tua harus bisa membuat kondisi di lingkungan keluarga dengan baik agar anak bisa mendapatkan pendidikan pertama mereka dari kedua orang tuanya. Cara orang tua dalam mendidik anak nya mungkin bisa dengan cara pengajaran pembiasaan dan keteladanan. Dengan adanya ini diharapkan anak-anak akan tumbuh dan berkembang sebagai manusia yang berpendidikan yang berguna bagi dirinya sendiri, orang tua, dan keluarga mereka sendiri.